Mesi si kucing, dua bulan lalu melahirkan tiga anak. Saat usia anak anak kucing itu satu bulan, papi memposting foto dua dari tiga anak kucing untuk ditawarkan kepada orang yang mau mengadopsi. Saat itu ada sebuah keluarga yang berminat datang kerumah untuk mengambil kedua anak kucing yang kami beri nama moka dan lala. tapi ulan dan aga menangis sedih karena tak rela berpisah dengan moka dan lala. Keluarga yang berniat mengganti pakan sebesar duaratus ribu rupiah itu pun urung membawa moka dan lala.
Hari berganti minggu berlalu. Anak-anak mesi tumbuh menjadi kucing kucing kecil yang lucu dan menggemaskan. Oiya selain moka dan lala masih ada poki si abu. satu satunya anak yang mengikuti warna bulu mesi si induk. Moka seperti namanya memiliki warna coklat susu, sementara lala memiliki bulu berwarna putih dengan motif garis halus pada punggung dan warna coklat susu pada ekornya.
Keluarga yang sempat datang dan berminat mengadopsi moka dan lala kembali menghubungi. Sudah dua bulan berlalu dan mereka masih mengharap dapat mengadopsi moka dan lala. maka saya mulai menjelaskan pada anak-anak, kepindahan moka dan lala adalah untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Merawat empat kucing dirumah tentu membutuhkan usaha yang lebih. Maka anak-anak pun mau melepaskan moka dan lala.
Jumat malam itu, calon keluarga baru moka dan lala datang untuk mengambil. Setelah mengobrol sebentar seputar perawatan moka dan lala, mereka pun pamit dengan menyerahkan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah sebagai pengganti pakan. mereka melebihkan lima puluh ribu dari yang kami sepakati. Sesungguhnya saya rela memberikan moka dan lala dengan cuma cuma. Namun uang tersebut sebagai tanda kesungguhan pengadopsi berniat merawat moka dan lala.
saat itu saya memastikan mesi sang induk dan poki saudara mereka tetap berada di dalam kamar agar tak melihat kepergian moka dan lala.
malam itu keramaian berkurang setelah kepergian moka dan lala. Kini hanya tinggal Mesi dan poki di rumah. Sabtu pagi hari itu Lintang berangkat berkegiatan. sementara ulan yang biasanya libur, akan berangkat ke sekolah menghadiri kegiatan maulid nabi. Saya tak memperhatikan mesi dan poki pagi itu karena sedang menyiapkan ulan yang akan berangkat sekolah.
ketika hendak memakai sepatu di teras rumah, ulan memberitahu saya kalau poki sedang berjemur di jalan. Saya mengiyakan dengan melihatnya sekilas dari balik pagar. Namun saya curiga melihat posisi berbaring poki yang terlihat sangat aneh. Segera saya keluar untuk melihatnya dan benar saja. poki sudah tak bernyawa terbaring lemah dengan kondisi kepala yang mengenaskan. Saya tak sanggup memegangnya. Kembali ke dalam rumah saya mengambil kantong plastik, untuk menutupi tubuh poki dan mengangkatnya ke tempat yang aman. Pagi itu kami berduka. Saya tak menunjukan tubuh poki kepada mesi.
Seharian itu mesi mengendus endus mencari kesana kemari anak-anaknya yang sudah tidak ada. Hal itu membuat saya semakin bersedih. puting susu mesi membengkak karena penuh dengan susu yang tidak keluar karena ketiga anaknya sudah tidak ada. Setiap kali diberi makan, mesi selalu mengeong memanggil anaknya semakin miris hati saya melihatnya. Saat ini mesi lah yang kami khawatirkan. Makannya berkurang karena setiap kali waktu makan ia selalu mencari anaknya. Seminggu ini kami fokus menemani mesi yang terlihat kehilangan. Maafkan kami mesi. kita bisa melewati masa berduka ini bersama sama.