Jumat, 24 Oktober 2025

Menuju fase beriman

Beberapa waktu belakangan rajin denger kajian dari Syaiful Karim. Apa yang disampaikannya membuka wawasan baru dan perspektif lain dalam belajar Islam. Sebelumnya saya juga sering menyimak kajian spiritual dari tiga fakir. Perjalanan spiritual tiga fakir mengulas konsep serupa dengan yang dipaparkan Syaiful karim. 

Pembahasan keduanya saling melengkapi, membuat saya semakin paham dan meyakini apa yang beliau-beliau ini sampaikan. 


Menurut Syaiful Karim ada tiga fase keimanan.

Fase pertama belum beriman, banyak orang mengaku beriman tapi hanya sekedar mengaku, belum diakui oleh Allah karena orang yang masuk dalam golongan ini, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. 


Fase kedua fase awal beriman. Golongan ini berada di pertengahan jalan. Fase yang berbahaya, karena masa transisi. Golongan manusia di fase ini bisa lanjut ke fase selanjutnya atau malah kembali tertutup mundur ke fase belum beriman.


Yang ketiga adalah fase beriman.

Islam muslim, Berserah diri

Memilih tidak melawan realitas.

Menerima saat ini apa adanya tanpa syarat dan keberatan.

Setiap waktu adalah saat ini.

Melepaskan penolakan batin (dalam diri) terhadap apa yang ada.


Kajian kajian yang disampaikan oleh Syaiful karim, dikatakannya hanya sebagai pembuka pikiran, belum menjadi santapan rohani. Ilmu ilmu itu baru menjadi santapan rohani bila sudah menjadi pengalaman bagi pendengarnya. 


Begitupun saya di saat ini. Kajian kajian ini begitu menggungah dan terasa nyata. Tidak sekedar menjanjikan pahala dan surga yang nanti. Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang terasa dekat dan nyata. Tapi perjalanan mencapai fase beriman memang perlu dilatih dan diperjuangkan. 


Saya terbiasa menuruti pikiran dan ego. Pikiran selalu bergerak, kendalikan pikiran rasakan dan nikmati kehidupan saat ini sekarang,  Karena hanya saat ini yang dimiliki. Fokus hanya pada saat ini, menerima apapun yang terjadi membutuhkan latihan yang terus menerus. 


Syariat agama yang dilakukan adalah jembtan menuju terbukanya pintu kesadaran. Syariat mengantarkan kita pada fase beriman. Tapi dogma dan doktrin yang kita terima selalu tentang kehidupan nanti di akhirat. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadanya?