T A R I T O R I A L
Portofolio Ibu Profesional
Kamis, 30 April 2026
Rawat Inap ibu
Rabu, 29 April 2026
Berobat Double
Pukul 7 kami sudah berangkat dari rumah. Pukul 7.30 sampai di rs dan segera mendaftar. Wulan ke dokter bedah, aga ke dokter anak. Dokter anak ada di lantai 1 dan dokter bedah ada di lantai 2. Setelah menyerahkan barcode ke nurse station di dokter anak. Kami naik tangga menuju lantai 2. Setelah wulan diperiksa berat badan, kami menunggu dokter bedah terlebih dulu karena jadwal dokter bedah lebih pagi dr dokter anak. Ternyata sampai pukul 8 dr bedah masih belum datang, padahal jadwal di rumah sakit praktek dokter mulai pukul 7.30. kami turun untuk mengecek dokter anak. Ternyata dokter anak pun belum tiba tapi kami ke perawat dulu untuk pengecekan berat badan dan kondisi anak. Selesai itu kami naik kembali ke lantai 2 menunggu dokter bedah. Pukul 8 lewat doktwr bedah tiba. Ulan segera masuk poli. Proses buka jahitan tak berlangsung lama. Dokter masuk ambil gunting, pasang plester dan selesai. Setelah itu kami menunggu di kasir lantai 2 cukup lama. Karena itu saya kembali turun untuk mengantri dokter anak. Sayangnya ketika kami turun nomor antrian aga sudah terlewat. Maka kami menunggu 4 pasien terlebih dulu baru nama aga dipanggil kembali.
Di poli anak, setelah menceritakan riwayat penyakit dan keluhan aga, dokter memeriksa fisik aga. Dokter curiga sinus dan disarankan melakukan rongsen kepala. sambil menunggu koordinasi suster dan bagian radiologi, saya kembali ke atas untuk menyelesaikan pembayaran ulan. Setelah beres suster poli anak mengabarkan kami bisa langsung ke bagian radiologi untuk rongsen. Aga menjalani foto rongsen kepala di ruangan tertutup. 5 menit kemudian kami sudah kembali ke poli anak dan mengabari suster disana bahwa sudah melakukan rongsen. Kami diminta menunggu kembali untuk bertemu dokter.
Setelah dua pasien, nama aga kembali dipanggil. Menurut dokter dari hasil rongsen kepala ada penebalan dinding hidung yang ditandai dengan warna putih pada hasil fotonya. Indikasi sinus karena infeksi batuk pileknya. Dokter meresepkan antibiotik untuk 2 minggu yang wajib dihabiskan. Ada juga racikan obat untuk batuk pilek dan cairan penyemprot hidung yg harus disemprotkan setiap pagi.
Keluar dr poli anak. Saya menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Lanjut kebagian farmasi untuk mengambil obat yang diresepkan. Pukul 11 kami baru keluar dari gedung rumah sakit. Pukul 12 kami tiba kembali sampai di rumah dan beristirahat.
Meskipun hanya duduk dan beberapa kali bolak balik naik tangga. Ketika sampai dirumah badan terasa sangat lelah.
Minggu, 19 April 2026
Cerita IGDku
Pukul 5 sore Saya sedang duduk santai sambil melipat cucian yang sudah kering sementara suami fokus memperbaiki alat cukur yang macet. Tiba tiba dari luar terdengar suara gabruk sepeda jatuh. Suami segera melihat keluar dan saya menyusulnya. Terlihat Wulan menelungkup diatas sepedanya. Suami segera menggendongnya masuk dan saya memasukkan sepeda. Bekas darah terlihat di baju bagian leher ulan. Saya mengambil kapas dan membasahinya dengan minyak tawon. Terlihat luka menganga di dagu ulan. Ulan menangis, saat saya mengusap dan menempelkan kapas pada lukanya. Kapas segera dipenuhi darah. Saya mengambil kapas kedua, membasahinya dengan minyak tawon dan kembali menempelkan pada luka di dagu ulan. Darah sudah berkurang, lukanya lebih jelas terlihat. Dagu ulan terlihat sobek dan dalam, perlu dijahit. Kami langsung membawa ulan ke IGd rumah sakit.
"Kenapa bu?" Tanya suster yang berjaga di meja IGD. Saya menjelaskan secara singkat lalu suster meminta saya mengukur berat badan Ulan pada timbangan yang ada di sudut ruangan. Kami diarahkan untuk masuk ke salah satu ruang disana. Ulan yg digendong papi lalu direbahkan pada tempat tidur yang ada didalam ruangan tersebut. Kapas dengan minyak tawon masih saya tempelkan pada lukanya. Pendarahan sudah jauh berkurang. Minyak tawon memang kami percaya sebagai obat yang manjur untuk segala macam luka. Kalau saja luka ulan tak dalam, saya cukup yakin untuk mengobatinya di rumah saja dengan minyak tawon.
Papi keluar untuk mengurus administrasi, saya bersama ulan menunggu di ruangan. Ulan sudah lebih tenang. Kami mengobrol Tentang sebab musabab ulan terjatuh dan sempat ke toilet untuk pipis. Ternyata ulan jatuh bujan karena ngebut saat bersepeda. Dia jatuh saat hendak putar balik. Dia memutar stang sampai mentok hingga kehilangan keseimbangan. Dari ceritanya saya berasumsi luka itu dia dapatkan karena terbentur ujung stang saat jatuh. Awalnya saya mengira ulan terluka karena terbentur batu.
Beberapa petugas mondar mandir ke dalam ruangan menyiapkan peralatan. Seorang petugas laki laki, entah dokter atau suster menganti kapas minyak tawon yang saya pegang dengan kasa basah sepertinya karna alkohol. Saat hendak dijahit ulan kembali menangis. Saya menggenggam tangannya menguatkan dan menenangkannya. Jarum suntik ditusukkan ke sekitar lukanya, bukan cuma di satu titik tapi 4 titik. Ulan menangis dan menjerit, hatiku rasanya sedih sekali. Ngga tega rasanya membayangkan ulan merasakan sakit seperti itu. Ketika hendak dijahit, ulan kembali menangis, saya menenangkannya, bilang kalau obatnya sudah bekerja dan dia tak akan merasakan sakit. Saya mengajaknya menarik napas dan menutup mata dan ulan menjadi lebih tenang. Dokter mulai menjahit lukanya dan kali ini ulan tidak menangis. Ngilu rasanya melihat jarum menembus kulit dari seorang anak. Ulan mendapat tiga jahitan. Tentu akan jadi pe er saat melepasnya nanti. Dokter menenangkan kalau tak akan terlalu sakit saat melepas jahitan meskipun saya tahu itu hanya penghiburan. Tapi saya tak lagi membicarakan. Sekarang fokus pada ulan agar tenang. Perban dipasang untuk menutup jahitan namun itu belum selesai. Ulan masih hrus suntik tetanus pada lengan kirinya. Ulan kembali menangis saat suster menyuntiknya. Tapi kali ini tak lama. Saat saya bilang kita sudah boleh pulang, ulan kembali tenang.
Papi diminta suster mengurus administrasi dan mengambil obat. Kembali tinggal kami berdua di ruangan itu. Ulan minta nonton hp dan saya memberikannya. Papi masuk membawa obat. Kami keluar ruang Igd dan pulang menuju rumah. Pelajaran hari ini, betapa remuknya hati seorang ibu melihat anak kesakitan. Tak terbayang para ibu yang kuat mendampingi anak-anak yang sakit berat. Semoga Tuhan menguatkan hati para ibu yang sedang mendampingi buahatinya menuju kesembuhan.