Pukul 5 sore Saya sedang duduk santai sambil melipat cucian yang sudah kering sementara suami fokus memperbaiki alat cukur yang macet. Tiba tiba dari luar terdengar suara gabruk sepeda jatuh. Suami segera melihat keluar dan saya menyusulnya. Terlihat Wulan menelungkup diatas sepedanya. Suami segera menggendongnya masuk dan saya memasukkan sepeda. Bekas darah terlihat di baju bagian leher ulan. Saya mengambil kapas dan membasahinya dengan minyak tawon. Terlihat luka menganga di dagu ulan. Ulan menangis, saat saya mengusap dan menempelkan kapas pada lukanya. Kapas segera dipenuhi darah. Saya mengambil kapas kedua, membasahinya dengan minyak tawon dan kembali menempelkan pada luka di dagu ulan. Darah sudah berkurang, lukanya lebih jelas terlihat. Dagu ulan terlihat sobek dan dalam, perlu dijahit. Kami langsung membawa ulan ke IGd rumah sakit.
"Kenapa bu?" Tanya suster yang berjaga di meja IGD. Saya menjelaskan secara singkat lalu suster meminta saya mengukur berat badan Ulan pada timbangan yang ada di sudut ruangan. Kami diarahkan untuk masuk ke salah satu ruang disana. Ulan yg digendong papi lalu direbahkan pada tempat tidur yang ada didalam ruangan tersebut. Kapas dengan minyak tawon masih saya tempelkan pada lukanya. Pendarahan sudah jauh berkurang. Minyak tawon memang kami percaya sebagai obat yang manjur untuk segala macam luka. Kalau saja luka ulan tak dalam, saya cukup yakin untuk mengobatinya di rumah saja dengan minyak tawon.
Papi keluar untuk mengurus administrasi, saya bersama ulan menunggu di ruangan. Ulan sudah lebih tenang. Kami mengobrol Tentang sebab musabab ulan terjatuh dan sempat ke toilet untuk pipis. Ternyata ulan jatuh bujan karena ngebut saat bersepeda. Dia jatuh saat hendak putar balik. Dia memutar stang sampai mentok hingga kehilangan keseimbangan. Dari ceritanya saya berasumsi luka itu dia dapatkan karena terbentur ujung stang saat jatuh. Awalnya saya mengira ulan terluka karena terbentur batu.
Beberapa petugas mondar mandir ke dalam ruangan menyiapkan peralatan. Seorang petugas laki laki, entah dokter atau suster menganti kapas minyak tawon yang saya pegang dengan kasa basah sepertinya karna alkohol. Saat hendak dijahit ulan kembali menangis. Saya menggenggam tangannya menguatkan dan menenangkannya. Jarum suntik ditusukkan ke sekitar lukanya, bukan cuma di satu titik tapi 4 titik. Ulan menangis dan menjerit, hatiku rasanya sedih sekali. Ngga tega rasanya membayangkan ulan merasakan sakit seperti itu. Ketika hendak dijahit, ulan kembali menangis, saya menenangkannya, bilang kalau obatnya sudah bekerja dan dia tak akan merasakan sakit. Saya mengajaknya menarik napas dan menutup mata dan ulan menjadi lebih tenang. Dokter mulai menjahit lukanya dan kali ini ulan tidak menangis. Ngilu rasanya melihat jarum menembus kulit dari seorang anak. Ulan mendapat tiga jahitan. Tentu akan jadi pe er saat melepasnya nanti. Dokter menenangkan kalau tak akan terlalu sakit saat melepas jahitan meskipun saya tahu itu hanya penghiburan. Tapi saya tak lagi membicarakan. Sekarang fokus pada ulan agar tenang. Perban dipasang untuk menutup jahitan namun itu belum selesai. Ulan masih hrus suntik tetanus pada lengan kirinya. Ulan kembali menangis saat suster menyuntiknya. Tapi kali ini tak lama. Saat saya bilang kita sudah boleh pulang, ulan kembali tenang.
Papi diminta suster mengurus administrasi dan mengambil obat. Kembali tinggal kami berdua di ruangan itu. Ulan minta nonton hp dan saya memberikannya. Papi masuk membawa obat. Kami keluar ruang Igd dan pulang menuju rumah. Pelajaran hari ini, betapa remuknya hati seorang ibu melihat anak kesakitan. Tak terbayang para ibu yang kuat mendampingi anak-anak yang sakit berat. Semoga Tuhan menguatkan hati para ibu yang sedang mendampingi buahatinya menuju kesembuhan.