Setiap kali ada film baru di bioskop yang ingin saya tonton, saat itulah waktunya buat me time bareng Lintang. Kegiatan nonton bareng ini sebetulnya bukan hanya waktu berkualitas bareng lintang. tapi lebih ke reparenting diri sendiri. Dulu saat masih remaja, ga pernah ada agenda nonton ke bioskop bareng orang tua. Mangkanya tiap kali pergi nonton bersama anak-anak, selalu muncul rasa haru. Saya sadar ini lebih dari sekedar nonton bareng tapi menguatkan inner child dalam diri. Lanjut ke acara nontonnya. kali ini saya nonton film Rangga dan Cinta. remake dari film Ada Apa Dengan Cinta?
Saya duduk di kelas 2 SMA saat film AADC keluar di tahun 2002. Saat itu AADC sangat booming dan relate sekali dengan kehidupan remaja. Tak hanya filmnya, Soundtracknya pun menjadi sangat terkenal bukan hanya satu lagu tapi satu album. 23 tahun sudah berlalu, AADC diremake menjadi film musikal berjudul Rangga dan Cinta yang sekarang bisa kunikmati bareng Lintang.
Rangga dan Cinta di adaptasi menjadi lebih masuk dengan remaja di tahun 2025 meskipun masih mengangkat cerita berlatar tahun 2000. Diperankan oleh anak-anak muda yang menurut informasi didapat dari hasil casting para produsernya. Karena ini film musikal, setiap pemerannya menyanyikan sendiri lagu-lagu yang menjadi bagian dari cerita. Semua lagu di album AADC menjadi bagian dari cerita. Ada pula beberapa lagu baru yang dibuat untuk melengkapi bagian cerita. Di AADC, lagu-lagu hanya digunakan sebagai backsound sebuah adegan. Kadang ada beberapa lagu yang dipaksa masuk kedalam adegannya. Sementara di Rangga Cinta yang memang mengusung film drama musikal, semua lagu menjadi bagian dari cerita sehingga lagu lagu itu terasa lebih nyambung dengan filmnya. Menonton Rangga dan Cinta melengkapi pengalaman menonton AADC secara lebih utuh.
Menurut saya sebagai generasi penikmat AADC, "cool"nya Nicolas saputra dalam memerankan Rangga tak tergantikan. Namun pemeran Rangga di versi Rangga dan Cinta 2025 juga mampu memberikan rasa yang sama (terutama bila penonton tidak punya memori yang melekat pada versi AADC). Jujurly, saya lebih suka bagian akhir dari Rangga dan Cinta, terasa lebih emosional tanpa phisical touch yang berlebihan. Pesan saya buat penikmat AADC yang mau nonton Rangga dan Cinta, nikmati saja dan kamu akan terhanyut dalam nostalgia.