Kemarin saya mengikuti kegiatan belajar parenting di Sekolah TKIT Amanah. Seperti pada umumnya kegiatan parenting sudah menjadi agenda tahuhan di setiap sekolah termasuk TK Amanah. Ini Adalah kali ketiga saya mengikuti kegiatan parenting yang diadakan TK tersebut. Ketiga anak saya bersekolah di TK yang sama. Mulai dari Lintang yang saat itu termasuk angkatan ke 4 (tahun 2018), Aga angkatan ke 10 (tahun 2023) hingga saat ini Wulan angkatan ke 12 (tahun 2025). Tema yang diangkat kali ini adalah Peran orang tua dalam perkembangan sosio emosional anak usia dini dengan narasumber bapak Mego Husodo seorang psikolog anak.
Berikut rekap ilmu yang saya dapatkan dari kegiatan belajar parenting tersebut :
Pengaruh ortu dlm perkembangan emosi anak
Yg mempengaruhi perkembangan emosi anak:
- Kelekatan ; anak butuh validasi, validasi emosi anak, tunjukan empati pada emosi yg dirasakan anak
- Pola asuh ; konsisten
- Kepribadian anak
- Pengaruh sosial
Yg perlu dilakukan ortu :
- Cinta tanpa syarat, tunjukan cinta dengan memberikan waktu (mendampingi, hadir penuh), beri sentuhan, pengakuan, penghargaan/apresiasi
- menjadi Role model (Katakan & tunjukan emosi yg ortu rasakan pada anak)
- Konsisten tanpa marah & ceramah
- Asah asih asuh ; orangtua bijak dalam.menghadapi masalah dengan : menerima, analisa, intervensi & pasrah
- Buat anak merasa berharga ; Gunakan mantra 5S saat bicara dengan anak : Samperin, Senyum, Sentuh, Sapa, Sabar
3 waktu yg dianjurkan bicara :
Diwaktu sakit
Diatas kendaraan
Disaat makan
Setelahnya, pihak sekolah menyebrkan kuisioner yang hqrus diisi oleh orang tua, berikut jawaban yang saya berikan :
Arane Wulan
Kelas B1
Tujuan: Memahami dan menyelaraskan strategi pengembangan sosial-emosional anak antara sekolah dan rumah.
I. Mengenal Anak di Lingkungan Rumah
Bapak/Ibu, di rumah, bagaimana perilaku anak saat menunjukkan emosi kuat seperti marah, kecewa, atau sangat gembira? Bagaimana cara terbaik Bapak/Ibu untuk meresponsnya?
Keterampilan sosial apa yang saat ini paling Bapak/Ibu banggakan dari anak (misalnya: berbagi, menunggu giliran, atau empati kepada orang lain)?
*Jawaban* :
- menunjukan emosi marah & kecewa yg kuat dengan menangis, sementara saat menunjukan emosi yg sangat gembira dengan bergerak kesana kemari.
- direspon dengan memberinya waktu meluapkan emosinya, sesekali sambil diingatkan apabila melakukan hal yg tidak baik (misal menangis sambil lempar2 barang)
- keterampilan sosial yg dibanggakan mau berbagi, mau menunggu giliran, menunjukan kemampuan mengenali batasan yg baik (misal menolak diajak main oleh teman saat waktunya tidur siang)
Adakah hal-hal yang sedang sulit atau menjadi tantangan bagi anak dalam bersosialisasi atau mengatur emosinya di rumah?
*Jawaban* :
Tantangannya selalu ingin mendapat hal yang sama dengan kakak2 nya, iri bila kakaknya mendapat sesuatu yg lebih
II. Penyelarasan dan Perbedaan Pendekatan
Di sekolah, kami menerapkan [Sebutkan 1-2 contoh aturan atau metode di sekolah, misalnya: metode time-out atau 'zona tenang']. Apakah Bapak/Ibu menerapkan aturan yang serupa di rumah? Jika tidak, apa bedanya?
Menurut Bapak/Ibu, apakah perbedaan pendekatan antara sekolah dan rumah ini justru membantu atau malah membuat anak bingung?
*Jawaban*:
Dirumah ada aturan bergantian dan menunggu giliran, harapan nya aturan-aturan yang baik bisa selaras antara sekolah dan rumah
Sikap atau perilaku spesifik apa yang Bapak/Ibu ingin kami (guru) bantu kembangkan pada diri anak di sekolah, sehingga sejalan dengan nilai-nilai di rumah?
*Jawaban*:
Membantu anak berlatih mengungkapkan ide/ pikirannya secara verbal dan personal, misal anak yang tunjuk tangan dipersilahkan bicara/menjawab pertanyaan bukan bicara/menjawab beramai2
III. Komunikasi dan Kolaborasi Dua Arah
Seberapa sering Bapak/Ibu merasa perlu mendapatkan informasi dari kami (guru) tentang perkembangan sosial-emosional anak, di luar laporan rutin?
*Jawaban*:
-Apabila ada hal yg bersifat emosional bagi anak, guru bisa menginformasikan di hari itu jg melalui pesan WA, misal hari itu anak menangis karena tidak kebagian mainan saat istirahat
- waktu pengambilan rapot bisa dimaksimalkan menjadi sarana komunikasi bagi guru & orang tua dengan memberikan slot waktu konsultasi secara personal,
- orang tua mengisi jadwal waktu pengambilan rapot, sehingga ortu datang sesuai jadwalnya.
- guru di dalam kelas hanya bersama orang tua yg mengambil sesuai jadwalnya, sementara ortu giliran selanjutnya menunggu di luar/ ditempat yg sudah disediakan
Informasi apa dari rumah yang menurut Bapak/Ibu penting bagi kami di sekolah untuk ketahui agar kami bisa mendukung anak dengan lebih baik? (Contoh: sedang cemas karena sesuatu, ada perubahan di rumah)
*Jawaban*:
Wulan sedang semangat mempelajari hal baru dan sangat mendengar nasihat ibu guru
Menurut Bapak/Ibu, kolaborasi seperti apa yang paling efektif? Misalnya, apakah kami perlu memberi saran tentang cara mendisiplin di rumah, atau Bapak/Ibu yang memberi saran cara menangani anak di sekolah?
*Jawaban*:
Guru & orang tua saling berbagi informasi,
Guru bisa berbagi pengamatan tentang perilaku anak di sekolah sementara orang tua memberikan info tentang kebiasaan di rumah.
Bagaimana kita dapat menciptakan komunikasi dua arah yang lebih terbuka sehingga strategi yang kita gunakan di sekolah dan di rumah bisa saling mendukung dan memperkuat karakter sosial-emosional anak secara konsisten?
*Jawaban*:
Guru bisa menginformasikan keterampilan yg sedang dikembangkan di sekolah
Misal bulan ini berlatih bertanggung jawab
Lalu ada PeEr mendokumentasikan kegiatan melatih tanggung jawab di rumah (butuh dukungan dari orangtua)